Select Language
Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
Title Kliping Berita: Mencermati Penurunan Kemiskinan: Kemiskinan
Edition
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s)
Subject(s) Kliping Berita
Kliping kemiskinan
Classification
Series Title Harian Republika
GMD Buku Tercetak
Language Indonesia
Publisher
Publishing Year
Publishing Place
Collation Kamis, 02 Juli 2009
Abstract/Notes Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana biasa secara bulanan merilis data kondisi ekonomi paling mutakhir. Angka-angka terbaru yang disajikan cukup melegakan, karena semuanya boleh dibilang mengarah ke positif.

Data perdagangan, misalnya, menunjukkan bahwa pada Mei lalu ekspor sudah mulai membaik. Pada Mei lalu, nilai ekspor naik 9,5 persen. Sementara untuk impor, pada periode yang sama juga naik 17 persen dengan barang yang diimpor mayoritas berupa permesinan atau barang produktif.

Kemudian untuk laju inflasi, pada Juni 2009 tercatat 0,11 persen, sehingga secara keseluruhan per Januari-Juni inflasi bisa ditekan menjadi hanya 0,21 persen. Dan yang tak kalah menariknya, adalah turunnya jumlah orang miskin dari 34,96 juta (15,42 persen) pada 2008 menjadi 32,53 juta (14,15 persen) pada 2009, atau turun 2,43 juta selama satu tahun terakhir.

Penurunan angka kemiskinan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal I 4,4 persen. Logikanya memang, ketika pertumbuhan ekonomi naik, berarti produk domestik bruto (PDB) juga naik. Jika PDB naik, pendapatan per kapita juga naik dan secara otomatis kemiskinan juga akan menurun.

Masalahnya apakah penurunan jumlah orang miskin tersebut setara dengan pertumbuhan ekonomi kita? Karena jika dibandingkan dengan pendapatan per kapita, pendapatan orang miskin tersebut jauh di bawah. Kita tahu pendapatan per kapita Indonesia saat ini sekitar 2.400 dolar AS atau sekitar Rp 24 juta dalam setahun, jadi Rp 2 juta per bulan.

Angka tersebut sangat jauh dibanding dengan pendapatan orang miskin yang gampangnya saja disamaratakan satu dolar per hari atau 30 dolar per bulan (setara dengan Rp 300 ribu). Dengan begitu, saat ini ada 32,53 juta rakyat miskin yang pendapatannya sepertujuh dari pendapatan per kapita nasional.

Apa yang bisa dilihat di situ adalah bahwa kesenjangan terlalu melebar. Selisih pendapatan orang miskin dengan pendapatan per kapita nasional itu per orangnya Rp 1,7 juta. Sehingga, jika dikalikan 32,53 juta orang, hasilnya akan Rp 55,3 triliun, dan jumlah itulah yang menumpuk di kalangan atas.

Itu membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah dihasilkan sekarang ini tidak berkualitas. Pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan secara persentase jauh meninggalkan persentase penurunan orang miskin. Akibatnya, kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya semakin besar.

Sebagai contoh konkret bisa kita lihat bagaimana kekayaan para calon presiden dan calon wakil presiden. Amati perkembangan kekayaan mereka dalam empat atau lima tahun terakhir, pertumbuhannya akan dua kali lipat. Sementara, jumlah orang miskin yang berhasil dientaskan selama kurun waktu itu tak lebih dari 10 persen.

Kita gembira dengan data yang dirilis oleh BPS tersebut di mana inflasi bisa terjaga, perdagangan mulai bergairah, dan jumlah orang miskin terkurangi. Tapi, kita masih tetap prihatin karena pencapaian yang bagus itu tidak diimbangi dengan pemerataan sehingga jumlah orang miskin di negeri kaya ini pun masih tetap di puluhan juta orang.

Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous