Select Language
Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
Title Kliping Berita: Besarnya Angka Pertumbuhan Penduduk Miskin Jadi Beban
Edition
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s)
Subject(s) Kemiskinan
Classification
Series Title Harian Suara Karya
GMD Buku Tercetak
Language Indonesia
Publisher
Publishing Year
Publishing Place
Collation 16 Januari 2010
Abstract/Notes [JAKARTA] Angka pertumbuhan penduduk yang besar, tetap akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi negara, apalagi jika penduduk yang bertambah itu adalah kategori miskin. Apabila penduduk miskin bertambah, daya beli akan semakin rendah, kualitas manusianya pun rendah, beban negara akan makin berat dan secara global miskin.

Pernyataan itu dilontarkan mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Soemarjati Arjoso yang kini anggota Komisi IX DPR Bidang Kesehatan termasuk masalah KB kepada SP di Jakarta, Sabtu (16/1) menanggapi disertasi doktor dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Wilson Rajagukguk. Dalam disertasi berjudul Pertumbuhan Penduduk Sebagai Faktor Endogen dalam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia itu, Wilson mengatakan, pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi (SP, 14/1).

Menurut Soemarjati, argumen yang disampaikan Wilson dengan mengambil contoh negara Singapura, Thailand, dan Jepang itu, mungkin hanya melihat secara makro. Kalau penduduknya besar, berarti pasarnya besar, sehingga pasarnya besar pertumbuhan ekonomi besar, tetapi itu bergantung daya beli, dan kualitas manusianya.

"Untuk Indonesia, saya tidak sependapat dengan Wilson, karena daya beli, dan kualitas manusia Indonesia masih rendah. Bayangkan, kalau penduduknya besar dengan kondisi miskin, lalu tingkat pertumbuhannya tinggi, akan melahirkan lebih banyak penduduk miskin, sehingga pasti daya beli dan kualitas manusianya pun makin rendah, lalu beban negara pun makin berat," tegas politisi Partai Gerindra ini.


Jangan Dianggap Beban

Sebaliknya, Ketua Lembaga Penelitian Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia Arianto Patunru di tempat terpisah menegaskan, pertumbuhan penduduk jangan dianggap sebagai beban, tetapi sebagai modal pembangunan. Namun, pertumbuhan penduduk itu harus dibarengi dengan perbaikan pendidikan dan kesehatan, sehingga menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Pada tahun 2020-2030, yakni melimpahnya jumlah penduduk produktif usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 60 persen atau mencapai 160-180 juta jiwa pada 2020, Arianto mengatakan, pemerintah harus menyiapkan pasar kerja yang fleksibel, melengkapi infrastruktur industri manufaktur yang mempekerjakan tenaga kerja, serta membuat kebijakan-kebijakan yang membuat pemberi kerja tidak takut untuk mempekerjakan banyak orang.

Sebelumnya, dosen Sekolah Tinggi Teologia (STT) Baptis Jakarta, Wilson Rajagukguk dalam disertasinya mengungkapkan, anak selama ini hanya dipandang dan dijadikan beban. Padahal, kalau anak diberi pendidikan dan kesehatan bagus, itu merupakan investasi yang luar biasa besar bagi keluarga dan bangsa.

Dia menjelaskan, pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi tidak langsung muncul. Tetapi, dalam jangka panjang harus dilakukan. Karena jika tidak, Indonesia akan kehabisan sumber potensi SDM-nya.

Dia mencontohkan, negara-negara seperti Jepang, Singapura, Prancis, Tiongkok yang sebelumnya menerapkan kebijakan sedikit anak, saat ini mulai menghadapi persoalan, yakni kekurangan pasokan tenaga kerja produktifnya. Mereka sekarang malah merangsang warganya untuk memiliki anak lebih dari satu. Sebab, angka kelahiran di negara itu kini sangat sedikit dibandingkan angka penduduk yang mati. [M-17/M-15]

Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous