Women Research Institute Library
Select Language
Pencarian Sederhana

Pencarian Spesifik
Judul :
Pengarang :
  • SEARCHING...

Subyek/Subjek :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Tipe Koleksi : Lokasi :
Judul Kliping Berita: Perempuan di Pilkada (1): Istri-istri yang Tergoda Kuasa...
Edisi
No. Panggil
ISBN/ISSN
Pengarang Runik Sri Astuti
Kris R Mada
Subyek/Subjek Perempuan dan Politik
Pilkada
Klasifikasi
Judul Seri Kompas Hal. 5
GMD Buku + CD
Bahasa Indonesia
Penerbit
Tahun Terbit
Tempat Terbit
Kolasi Jumat, 5 Maret 2010
Catatan Di antara ratusan calon yang maju dalam pemilihan kepala daerah tahun 2010, ada sejumlah calon yang lain dari biasanya. Mereka adalah para istri yang suami mereka sedang berkuasa, tetapi masa jabatannya habis karena sudah dua periode. Sehatkah fenomena ini untuk demokrasi di tingkat lokal?
Bisa jadi karena krisis pemimpin disertai tuntutan mahalnya dana pilkada membuat sosok istri bupati yang berkuasa (incumbent) mencoba peruntungan.
Haryanti Sutrisno, istri Bupati Kediri, Jawa Timur, Sutrisno, mencalonkan diri sebagai kepala daerah dalam Pilkada Kabupaten Kediri 2010. Dokter umum yang menggandeng Camat Ngasem Masykuri sebagai pasangannya ini menggunakan kendaraan politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Haryanti enggan mengatakan alasan pencalonan dirinya sebagai kepala daerah. Ketika dicegat wartawan seusai menghadiri acara pos pelayanan terpadu untuk kelompok lanjut usia di Kantor Desa Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Kamis (4/3), ia justru buru-buru pergi.
”Saya ke sini acara posyandu lansia. Tapi, karena banyak disorot, ya, saya pergi aja. Itu (alasan pencalonan) bisa dibaca di visi misi saya di sekretariat Harmas (Haryanti-Masykuri) di Jalan Soekarno Hatta I Nomor 30,” ujarnya singkat.
Camat Gampengrejo M Imron yang mendampingi Haryanti mengatakan, masa jabatan Bupati Sutrisno akan berakhir Agustus 2010. Karena sudah menjabat sebagai bupati selama dua periode, Sutrisno pun tak bisa lagi mencalonkan diri, seperti diatur perundangan.
Sutrisno pun akhirnya mendorong istrinya yang terdaftar sebagai pegawai negeri sipil Kabupaten Kediri untuk mencalonkan diri. Haryanti dinilai mampu melanjutkan kebijakan pembangunan yang selama ini sudah dirintis oleh suaminya.
Apa saja yang sudah dibangun Sutrisno? Beberapa di antaranya adalah pusat bisnis dan perdagangan Simpang Lima Gumul, fasilitas wisata di Gunung Kelud, dan rencana pembangunan bandar udara di Kabupaten Kediri.
Lantas, muluskah pencalonan Haryanti? Kepala Bidang Evaluasi dan Monitoring Tim Harmas Darmawan yang ditemui di sekretariat tim pemenangan mengatakan, pasangan Harmas telah mengantongi dukungan dari PDI-P Kabupaten Kediri. Di luar PDI-P, pasangan Harmas menggalang koalisi dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Secara matematis, Haryanti unggul telak karena PDI-P saja sudah mengantongi 30 persen suara di parlemen. Ditambah Partai Hanura, PKNU, dan PPP, suara yang dikantongi Haryanti diprediksi mampu melampaui 50 persen. Padahal, masih ada sejumlah partai parlemen lagi yang hendak merapat ke kubu perempuan yang digambarkan sebagai sosok yang sedikit bicara, tetapi banyak bekerja ini.
”Visi yang diemban Bu Haryanti adalah terciptanya masyarakat Kabupaten Kediri yang sejahtera, cerdas, sehat rohani dan jasmani, bermoral, dan berwawasan luas sebagai landasan berpijak untuk menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Visi itu akan diimplementasikan, antara lain, dengan mengaktifkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, mencanangkan lima sektor prioritas pembangunan, yakni pendidikan, kesehatan, pertanian, industri, dan pariwisata.
Istri Bupati Sidoarjo
Di Jawa Timur bukan istri Bupati Kediri saja yang bakal maju di ajang pilkada, istri Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, Emi Susanti, juga memilih mencalonkan diri sebagai bakal calon wali kota Surabaya. Ia merasa lebih tepat di Surabaya karena sedikitnya dua alasan.
Emi mengatakan, pencalonan di Sidoarjo akan mengesankan keluarganya gila kekuasaan. Hal itu tidak bagus dan tidak sesuai etika. ”Pak Win minta, kalau memang mampu, sebaiknya jangan di Sidoarjo dulu. Karena itu, saya memilih Surabaya,” ujarnya di Surabaya, Kamis.
Selain itu, kiprahnya lebih banyak di Surabaya selama 27 tahun terakhir. Emi yang sosiolog dengan fokus utama studi jender dan pembangunan itu merancang dan mengawasi sejumlah proyek pemberdayaan di Surabaya. ”Saya juga banyak merekomendasikan cara pemberdayaan masyarakat. Namun, tidak semua rekomendasi bisa direalisasikan,” ujar Ketua Pusat Studi Wanita Jawa Timur itu.
Ia merasa, rekomendasi itu bisa diterapkan jika punya otoritas. Karena itu, ia bersedia maju dalam pemilihan wali kota Surabaya 2010-2015. ”Teman- teman dan keluarga mendorong saya karena dirasa saatnya sudah tepat. Menurut mereka, sebagai akademisi dan konsultan pemberdayaan, saya sudah membuat sejumlah studi dan proyek percontohan. Sekarang saya meluaskan program pemberdayaan itu,” ujarnya.
Kemampuan Emi juga diakui Pusat Studi Demokrasi dan HAM Universitas Airlangga saat survei antara Januari dan Februari 2010. Dari 14 nama yang disurvei, Emi dianggap satu dari tiga bakal calon yang mampu menandingi calon incumbent.
Wali Kota Surabaya Bambang DH berencana maju lagi sebagai calon wakil wali kota dari PDI-P. Bambang tidak bisa mencalonkan diri sebagai wali kota karena sudah menjabat dua periode. Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi mencalonkan diri sebagai calon wali kota dari Partai Demokrat.
Emi mengatakan, salah satu konsekuensi yang harus diterima dari pencalonannya adalah penundaan menjadi guru besar. Saat ini, Emi sedang dalam proses menyusun berkas pengangkatan sebagai guru besar di Universitas Airlangga. ”Karier sebagai akademisi hampir semua sudah tercapai,” ujarnya.
Kini tantangan mereka beradu di ajang pilkada, mampukah mereka menggapai kursi seperti yang diduduki suami-suami mereka?
Detil Spesifik
Gambar Sampul
Lampiran
LOADING LIST...
Ketersediaan
LOADING LIST...
  Kembali ke sebelumnya