Select Language
Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
Title Kliping Berita: Lagi, Soal Kesehatan Reproduksi Remaja
Edition 2010
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s) Maria Hartiningsih
Subject(s) Kespro Remaja
Classification
Series Title Kompas, SWARA, Hal. 59
GMD KLIPING
Language Indonesia
Publisher Kepustakaan Populer Gramedia
Publishing Year 2010
Publishing Place Jakarta
Collation Jumat, 17 Desember 2010
Abstract/Notes Pertemuan dengan teman wartawan dari New Strait Times Malaysia dalam pertemuan mengenai Hak-hak Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual di Manila, akhir November lalu, mengungkapkan isu kehamilan remaja di Malaysia.
”Beberapa tahun terakhir ini, Malaysia menghadapi persoalan dengan ratusan bayi yang dibuang atau ditinggalkan di tempat-tempat umum. Ada yang masih hidup, tetapi juga ada yang sudah meninggal,” ujarnya dalam perbincangan yang lebih personal.
International Herald Tribune, Selasa (9/12), melaporkan banyaknya bayi yang dibuang tiga tahun terakhir ini, dan puluhan bayi yang berhasil diselamatkan di tempat-tempat penampungan. Diperkirakan, sebagian besar bayi dilahirkan oleh remaja yang tak berani mengambil risiko dari hasil hubungan seks di luar perkawinan sah itu.
Reaksi tentang bayi tak diingini itu beragam, mulai dari pendidikan seks di sekolah (yang saat ini tidak dilakukan), hukuman seberat-beratnya, sampai rumah penampungan resmi agar bayi-bayi itu bisa dirawat orang lain.
Di bawah Hukum Islam—sekitar 60 persen populasi Malaysia beragama Islam—hubungan seks di luar perkawinan diharamkan. Kalau ketahuan, pelaku menghadapi berbagai ancaman hukuman, dari bayar denda, penjara, sampai hukum cambuk.
Aborsi dilarang hukum, kecuali dengan pertimbangan kesehatan ibu. Siapa pun yang ketahuan membuang anak menghadapi ancaman hukuman sampai tujuh tahun penjara atau denda, atau keduanya sekaligus. Bagi warga non-Muslim, hubungan seks di luar nikah tidak dihukum, tetapi secara sosial ditabukan.
Pendidikan
”Sebenarnya hukumannya tidak seketat itu,” sanggah Dr Norliza Ahmad dari Badan Kependudukan Nasional dan Keluarga Berencana Malaysia, yang ditemui dalam Konferensi Regional Badan Perserikatan Bangsa- bangsa untuk Kependudukan (UNFPA) di Bangkok, pekan lalu.
”Kalau sengaja membuang atau membunuh bayi, itu tindakan kriminal, dan harus dihukum,” ujar pakar kesehatan keluarga itu, ”Kalau bukan kesengajaan, yang pertama dilakukan adalah memberi informasi dan pendidikan, karena remaja kurang informasi dan pengetahuan tentang tubuhnya. Hukuman adalah tindakan terakhir.”
Laporan IHT menyebut, polisi Malaysia menemukan 76 kasus bayi dibuang dari Januari sampai 1 Oktober 2010. Pada kurun yang sama ditemukan 89 kasus pada tahun 2009, dan 102 kasus pada tahun 2008.
Di Malaysia, remaja perempuan Muslim di bawah 16 tahun dan laki-laki di bawah 18 tahun boleh menikah dengan izin Pengadilan Agama. Antara tahun 2000 dan 2008 tercatat 1.654 perkawinan melibatkan remaja perempuan berusia 16-17 tahun. Namun, para aktivis hak perempuan meyakini jumlahnya jauh lebih besar.
Laporan Badan PBB untuk Masalah AIDS (UNAIDS) 2010 menyatakan, 7.176 remaja perempuan Muslim dan 2.029 remaja laki-laki melakukan tes HIV, syarat bagi warga Muslim di Malaysia yang hendak menikah.
Menurut Norliza, Menteri Pendidikan sudah memutuskan tentang pendidikan seks di sekolah mulai tahun depan. ”Kita belum mendeteksi siapa ibu dari bayi-bayi itu, tetapi paling aman adalah memberi pengetahuan kepada remaja tentang seksualitas agar mereka memiliki kesadaran dan tanggung jawab atas tubuhnya,” ujar Norliza.
Filipina
Hak atas kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual merupakan kunci untuk mencapai tujuan kelima Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) tentang penurunan angka kematian ibu melahirkan (AKI) sampai tiga perempat dari angka AKI tahun 1990, yang harus dicapai tahun pada 2015.
Banyak negara diperkirakan gagal mencapai target itu, termasuk Indonesia dan Filipina. Namun, yang lebih penting sebenarnya bukan soal target angka itu, melainkan pemahaman dan ideologi mengenai seksualitas, khususnya seksualitas remaja, jumlah terbesar dari struktur usia di banyak negara. Mereka adalah kelompok yang menggenggam masa depan.
Pendidikan seks, menurut anggota DPR Filipina, Mong Palatino (30), adalah kunci Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual Remaja-Dewasa Muda. Namun, istilah ’pendidikan seks’ selalu memancing persoalan. Di Filipina, misalnya, kata ’pendidikan seks’ berkonotasi ’mengajarkan hubungan seksual’.
”Pendidikan seks pertama kali diperkenalkan di sekolah di Filipina tahun 1972, sebagai bagian program pendidikan pemerintah mengenai kependudukan,” ujar Mong.
”Ketika Departemen Pendidikan berusaha memperbarui modul itu tahun 2006, Gereja Katolik menolak. Mereka tak mau ada istilah ’seks’ di sekolah. Kami memberi nama lain, ’pendidikan kesehatan reproduksi’, tetapi bagi gereja istilah itu tetap mengandung konotasi seks. Sekarang namanya ’program kesehatan remaja’, tetapi gereja tetap menganggap konotasi seksnya belum hilang.”
Pemaparan itu dimaksudkan Mong untuk membayangkan besarnya tantangan dalam pembahasan Reproductive Health Bill di Filipina oleh Kongres—karena kuatnya pengaruh gereja dalam politik di Filipina sejak People Power tahun 1986—yang diharapkan dapat disahkan tahun depan.
(Maria Hartiningsih)

Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous