Select Language
Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
Title Kliping Berita: KOPERASI: Perempuan-perempuan Perkasa
Edition 2011
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s) Maria Hartiningsih
Ninuk Mardiana Pambudy
Subject(s) Koperasi
Perempuan-perempuan Perkasa
Classification
Series Title Kompas Hal-40
GMD KLIPING
Language Indonesia
Publisher Kepustakaan Populer Gramedia
Publishing Year 2011
Publishing Place Jakarta
Collation Jumat, 01 Maret 2011
Abstract/Notes Sudarmi (kiri), nasabah Koperasi Simpan Pinjam Mentari Dana Mandiri, mendapat kunjungan staf koperasi di rumahnya di Kelurahan Kutowinangun, Kecamatan Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (25/3).
Sudarmi (45-an) tak bermimpi punya enam pintu rumah sewa sederhana. Waktu tiba di Salatiga dari Tulungagung, Jawa Timur, tahun 2003, ia hanya bertekad mencari penghidupan lebih baik dan menjauhkan suaminya dari pengaruh judi di kampung.
”Di Salatiga kami mulai dari nol. Jualan rokok, tidur di gerobak karena tak mampu bayar sewa kamar harian. Sering dikejar-kejar satpol PP,” kenang Sudarmi. ”Alhamdulillah, di Salatiga penyakit judi suami saya sembuh.”
Sudarmi adalah contoh kemiskinan yang berwajah perempuan, sekaligus wajah sektor informal di Indonesia yang kenyal. Ia merangkak dengan menjadi anggota Koperasi Simpan Pinjam Mentari Dana Mandiri (MDM), dan mulai jualan sayuran.
”Pinjaman pertama Rp 200.000, lalu Rp 500.000, pinjam lagi untuk modal dagang di kampung, terus pinjam, sampai Rp 15 juta untuk modal buat rumah,” ia mengenang.
Tiap hari ia menabung Rp 200.000 sampai Rp 300.000, tetapi diambil lagi kalau hendak kulakan satu-dua hari kemudian. ”Kalau disimpan sendiri, takut kepakai.”
Bu Sumiyem (45) awalnya tak tertarik menjadi anggota Koperasi MDM karena menganggap koperasi ini sama saja dengan koperasi lainnya yang hanya memberi utang. Ibu tiga anak ini adalah pedagang pecel di Pasar Rejosari, Salatiga, dan tulang punggung keluarga sejak tahun 2004, setelah suaminya, Ramsi (50), buruh bangunan, tak bisa bekerja akibat lumpuh karena kecelakaan kerja.
Desakan ekonomi keluarga mendorongnya gali lubang tutup lubang. Ia pun terbiasa berutang pada bank plecit (seperti rentenir) dan tak punya tabungan sepeser pun.
Peristiwa kebakaran Pasar Rejosari pada September 2008 menyadarkan Bu Sumiyem. Koperasi MDM memberi santunan dan tambahan biaya kepada anggota untuk membuat sarana kerja baru dan membekukan pinjaman anggota selama setahun. Bagi anggota yang mempunyai pinjaman, kebijakan penundaan angsuran selama setahun itu memberi tambahan modal baru untuk kembali berusaha.
Bu Sumiyem kemudian mulai tertarik bergabung. Mula-mula ia meminjam Rp 500.000 dan mendapat santunan untuk pengadaan meja dagang sebesar Rp 300.000. Ia kembali berjualan dan mulai menabung. Setiap hari ia menyisihkan Rp 2.000. Sekarang ia punya simpanan saham Rp 3,3 juta.
Digerakkan perempuan
Koperasi MDM bisa dikatakan digerakkan oleh perempuan. ”Lebih 70 persen anggota koperasi adalah perempuan pedagang pasar,” ujar Miftah, pengelola Koperasi MDM. ”Perempuan-perempuan pedagang pasar adalah tulang punggung keluarga, gigih dan ulet. Mereka adalah manajer ekonomi rumah tangga yang luar biasa.”
Kegigihan dan keuletan itu juga terlihat pada Aety Rufina (40-an), Ketua Koperasi Warga Kesuma Tiara di Slipi, Jakarta. Koperasi yang berdiri tahun 1999 ini pernah mencapai puncak kejayaan dengan hampir 1.000 anggota, tetapi kemudian mengalami kesulitan permodalan. ”Sejak tahun 2003 sampai 2009, kami menghidupkan kelompok-kelompok koperasi dengan paket sembako Idul Fitri, tetapi berat karena tak ada dana talangan,” ujarnya.
Bersamaan dengan itu, Aety mengajari anggota koperasi mencari dana pinjaman berbunga sangat rendah di lembaga- lembaga keuangan formal. ”Mula-mula mereka takut sekali. Masuk ke gedung saja takut. Sekarang mereka sudah jalan sendiri.”
Siti Aminah (52) adalah salah satunya. Ibu tiga anak itu sudah menjanda sejak puluhan tahun lalu, setelah suaminya meninggal. Ia menghidupi keluarganya dengan berjualan nasi uduk dan gorengan setiap pagi.
Ia meminjam uang ke Bank BRI Rp 5 juta untuk perbaikan rumah dan tambahan modal usaha. Sebelumnya ia sudah meminjam Rp 5 juta untuk uang muka motor, alat kerja (mengojek) anak laki-lakinya. Penghasilan bersih setiap hari sekitar Rp 90.000, untuk mengangsur pinjaman di Pegadaian Rp 5.000, BRI Rp 10.000, arisan Rp 20.000. ”Sisanya untuk makan, kondangan, pengajian dan lain- lain,” ujar Aminah.
Militan
Grameen Bank di Banglades adalah lembaga keuangan yang merintis usahanya dengan memilih fokus pada perempuan miskin karena keyakinan bahwa naiknya status ekonomi perempuan akan mempercepat peningkatan kesejahteraan keluarga.
Model Grameen Bank diadopsi oleh Kelompok Perempuan Mandiri (KPM), tetapi kelompok pemberdayaan masyarakat dalam jaringan Institute for Sustainable Agriculture and Rural Livelihood (ELSPPAT) Bogor itu gagal menerapkan model Grameen Bank karena kapitalisasinya sulit berkembang.
Meski demikian, kelompok itu berhasil melahirkan perempuan-perempuan militan. ”Semula suami melarang saya bergabung dengan KPM,” kenang Wiwin Wintarsih, staf lapangan Koperasi Serba Usaha Lestari, transformasi KPM, yang 212 dari 300 anggotanya adalah perempuan.
”Saya diam saja, tetapi besoknya saya berangkat lagi. Lama- lama dia bosan. Sekarang dia ikut jadi anggota koperasi dan memasok sayuran organik ke koperasi.”
Wiwin mengikuti jejak ibunya, Oca, yang bergelut di KPM sejak tahun 1999. ”Beliau mendapat banyak pengetahuan dari pelatihan yang dibuat KPM. Di sini umumnya prosesnya dimulai dari ibu-ibu, lalu bapak-bapaknya ikut,” lanjut Wiwin.
(MH/FIT/NMP)
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous