Select Language
Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
Title Kliping Berita: Problem Remaja : Menjadi Pekerja dan Menikah Dini
Edition Kompas- Jumat, 01 Maret 2013 – Hal. 38
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s)
Subject(s)
Classification
Series Title
GMD Buku Tercetak
Language Indonesia
Publisher Kepustakaan Populer Gramedia
Publishing Year 2013
Publishing Place Jakarta
Collation
Abstract/Notes Seni instalasi "Lihat dari Dekat" ditampilkan dalam diskusi "63 Juta Remaja, Guru Kita" yang digelar di Dia.Lo.Gue Art Space, Jakarta, pekan lalu.
Banyak orang mengatakan, usia remaja adalah masa paling indah. Apalagi buat kita yang enggak perlu pusing soal uang sekolah dan ikut kegiatan apa pun sesuai minat. Namun, enggak semua teman kita bisa menjalani hidup seperti itu.
Banyak teman kita yang tak bisa sekolah karena orangtuanya miskin atau faktor lain. Akibat selanjutnya, teman kita terpaksa bekerja meski masih berusia sekolah. Bahkan di daerah tertentu, orangtua ”tega” menikahkan anaknya yang berusia belasan tahun.
Sebagian kondisi itu terjadi karena orangtua tak paham kesehatan reproduksi serta hak anak akan pendidikan dan layanan kesehatan yang baik. Kondisi itu menjadi bahan diskusi berjudul ”63 Juta Remaja, Guru Kita” yang diselenggarakan Yayasan Kampung Halaman (YKH), pekan lalu, di Jakarta.
Panelis pertama adalah Oktaviani Wulansari (21) atau Ovik, gadis penyandang tuna rungu sekaligus Miss Deaf Indonesia 2012. Dia juga membantu mengajar bahasa isyarat di Solo, Jawa Tengah.
Ia bercerita, saat di taman kanak-kanak, dirinya sulit mendapat fasilitas belajar memadai. Sementara orangtuanya ingin Ovik menjalani kehidupan seperti anak biasa. Jadilah Ovik belajar di sekolah umum yang tak menggunakan bahasa isyarat.
Melihat kesulitan Ovik, orangtua akhirnya menyekolahkannya di sekolah luar biasa (SLB) hingga lulus SMA. ”Saya sekarang menjadi model dan mewakili Indonesia pada pemilihan Miss World Deaf 2012 di Praha (Ceko),” ujar Ovik lewat Rully, penerjemah.
Bagaimanapun Ovik beruntung karena banyak penyandang tunarungu di Solo hanya bisa bekerja di pasar, menjadi tukang sapu dan tukang parkir. ”Saya harap pemerintah memberi akses pendidikan dan pekerjaan bagi kami,” ucap cewek yang ingin menjadi guru itu.
Panelis lain, Ima (17), telah bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di Kranji, Bekasi, Jawa Barat, sejak usia 14 tahun. Gadis lulusan SMP di Purworejo, Jawa Tengah, itu mendapat majikan yang baik. Sambil bekerja ia bisa belajar menjahit dan menyulam di sanggar belajar keterampilan.
”Dulu, saya tidak melanjutkan sekolah karena orangtua tak mampu. Setelah bekerja, saya mengirim sebagian gaji buat membantu orangtua,” kata Ima yang mengikuti program kelompok belajar paket C (setingkat SMA) di Bekasi.
Pernikahan dini
Apabila dua panelis tersebut kesulitan mengakses pendidikan, Ica, panelis lainnya, berkisah tentang ketidaktahuannya tentang seks bebas. Ica ikut kawan yang menawari menjadi PRT. Namun, ternyata ia dijadikan pekerja seks komersial (PSK).
Paparan menarik datang dari Diah Ayu (14), siswa SMP Negeri 7 Bondowoso, Jawa Timur. Diah yang hobi menulis ini prihatin melihat kondisi sebagian remaja Indonesia.
”Mereka tak tahu bahaya seks bebas, perlunya memahami kesehatan reproduksi, dan bahaya pernikahan dini,” ujarnya. Karena itu, dia berkampanye anti-pernikahan dini serta antiseks bebas lewat cerpen dan mengobrol.
Menurut Diah, di pedesaan di Bondowoso, sebagian orangtua menikahkan anak perempuannya pada usia muda karena tradisi. Gadis berusia 13-14 tahun harus menikah karena jika tidak dianggap perawan tua.
”Di pedesaan, masyarakat memilih lebih baik menjadi janda muda daripada perawan tua. Pernikahan dini terjadi karena orangtua kurang pendidikan. Menikahkan anak secepatnya menjadi cara mereka mengurangi beban keluarga,” kata Diah.
Menurut dia, biasanya gadis belia di daerahnya dinikahkan dengan lelaki yang umurnya lebih tua tetapi cukup kaya, misalnya juragan tembakau.
Diah tak sendiri berperang melawan keadaan itu. Beberapa organisasi seperti YKH dan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) juga berusaha mengikis kebiasaan buruk itu lewat pelatihan bagi pelajar dan tokoh masyarakat selama setahun.
”Di Bondowoso, 47 persen pernikahan di bawah 16 tahun dan setahun kemudian 50 persen dari angka itu bercerai. Kami mengajari pelajar untuk mengekspresikan rasa seksualnya kepada lawan jenis, seperti mengirim pantun. Ini agar mereka tahu arti seks yang tak hanya berhubungan seks,” kata Zumrotin dari YKP.
Mendengar berbagai uraian itu, para penanggap tak menyangkalnya. Dede dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan Irwanto, psikolog yang juga Kepala Pusat Kajian Disabilitas Universitas Indonesia, memberi gambaran tingginya jumlah pekerja anak di Indonesia.
Tahun 2009, di Indonesia ada sekitar 1,7 juta pekerja anak. Padahal, seharusnya anak di bawah usia 18 tahun belum boleh bekerja ataupun menikah.
Mengenai yang terjadi di Bondowoso, Romo Bhaskoro dari Perguruan Kanisius Jakarta menyatakan, itu terjadi karena kesempatan belajar anak yang terbatas.
”Jika itu menjadi masalah nasional, pemerintah harus melihat masalah ini. Mungkin banyak orangtua tak paham pentingnya sekolah. Kalaupun mereka sekolah dan lulus, tak bisa langsung bekerja karena terbatasnya lapangan pekerjaan,” lanjutnya.
Jika tak segera diatasi, kondisi seperti diceritakan para panelis akan berdampak buruk terhadap masa depan bangsa Indonesia. Sebab, akan banyak anak muda tak berpendidikan cukup, tak sehat, serta memiliki kemampuan bekerja terbatas yang kelak membebani masyarakat dan negara. Mereka akan bergantung pada warga negara yang berpendidikan lebih tinggi, sehat dan produktif.
Apalagi data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang merujuk sensus penduduk Indonesia tahun 2010, menunjukkan, jumlah penduduk Indonesia 237,6 juta orang. Indonesia akan memperoleh bonus demografi pada 2017-2019. Artinya, komposisi jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai titik maksimal dibandingkan usia nonproduktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas).
Saat itu persentase warga usia produktif mencapai 55,5 persen. Jika penduduk usia produktif berkualitas, negara semakin maju. Sebaliknya, jika tidak, kondisi itu akan menjadi bencana.
Agar bencana itu tak terwujud, kita harus berupaya menjadi anak muda yang berpendidikan cukup, sehat, dan punya ketahanan diri dalam pergaulan. Semua itu diperlukan agar kelak kita menjadi sosok mandiri sehingga tak membebani pihak lain. (LUK/TRI)
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous