Select Language
Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
Title KLIPING BERITA: Lies Marcoes Mengejar Cahaya
Edition Minggu, 1 Juni 2014
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s) Maria Hartiningsih
Ninuk Mardiana Pambudy
Subject(s) Perempuan-Kemiskinan
Classification
Series Title
GMD KLIPING
Language Indonesia
Publisher Kompas
Publishing Year 2014
Publishing Place Jakarta
Collation
Abstract/Notes http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006934925

Cahaya, bagi Lies Marcoes-Natsir, MA (56), adalah metafora sekaligus realitas. Ia ingin membantu jutaan orang yang terperangkap dalam lingkaran setan pemiskinan untuk melihat cahaya di ujung terowongan nasib, sekaligus mengejar cahaya sebelum terjadi kebutaan total pada kedua matanya.

Peneliti, pakar senior jender, konsultan, dan aktivis yang bergelut dengan isu hak-hak perempuan, kesehatan reproduksi, kekerasan terhadap perempuan, dan pluralisme itu mengalami malapraktik di suatu klinik sakit mata terkemuka di Jakarta, tahun 2004, yang berujung dengan kebutaan pada mata kanan.

”Diagnosisnya keliru, selama 18 bulan obatnya salah,” kenang Lies.

Ketika akhirnya dia berangkat berobat ke negara tetangga, dokter menemukan tumor di saraf mata kanan. Keterlambatan itu membuat upaya operasi tak berhasil menyelamatkan mata Lies. Selama mata kanan lemah, mata kiri bekerja lebih keras, dan melemah dari tahun ke tahun. ”Pada akhirnya saya harus bersiap pada situasi akan terus melemah.”

Itu sebabnya, selama masih mampu menangkap cahaya, ia mengejar semua yang bisa dilakukan terkait aktivisme dan kerja penelitian yang menjadi hasrat hidupnya.
Menolak tumbang

Lies baru saja meluncurkan buku Menolak Tumbang: Narasi Perempuan Menolak Pemiskinan, Jumat (23/5). Hasil penelitian selama setahun di sembilan provinsi itu dilengkapi foto-foto karya fotografer Armin Hari, ditulis dalam bahasa ringan, menggunakan pendekatan siklus hidup, dengan pisau analisis lengkap, terutama analisis feminis dan hukum, untuk membedah anatomi kemiskinan dan pemiskinan sampai ke akar. Edisi bahasa Inggris akan diluncurkan di tiga kota di Australia, September 2014.

”Ini kemiskinan karena proses kebijakan terkait diskriminasi jender,” ujarnya di Jakarta, suatu siang. ”Jadi, melampaui studi konvensional tentang kemiskinan dan jender, dimulai dari kandungan ibu sampai usia lanjut, turun-temurun seperti lingkaran setan, ini yang ingin saya putus.”

Lies mengutip data Badan Pusat Statistik, ada 12 persen penduduk miskin absolut dan sulit sekali diangkat dari kemiskinan dengan program apa pun dalam lima tahun terakhir. Dengan jeli Lies melihat hasil studi Nani Zulminarni, Koordinator Nasional Perempuan Kepala Rumah Tangga (Pekka), yang menunjukkan, dari 12 persen itu 60 persennya perempuan kepala keluarga.

”Perempuan yang statusnya bukan janda, tetapi tak bersandar pada suami, jumlahnya banyak sekali. Misalnya, suami ada, tetapi pengangguran, suami sakit, suami pergi, atau poligami sehingga istrinya tak diurus lagi,” jelas Lies.

Karena statistik resmi tidak mengenal kategori perempuan kepala keluarga kecuali janda, fasilitas bantuan dari pemerintah tak sampai kepada mereka. Itu sebabnya, meski ”ditembak” dengan program beras miskin, bantuan langsung tunai, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, angka kemiskinan absolut tak kunjung turun.

”Itu tandanya pisau analisis dan pendekatannya tak bisa menangkap diskriminasi yang dialami perempuan,” tegas Lies, ”Jadi, penyebab pemiskinan pada perempuan bukan ekonomi, tetapi hilangnya akses pada pengambilan keputusan pembangunan. Itu sebabnya bantuan modal terdekat pada mereka adalah secara informal, yaitu rentenir. Tetapi, perempuan terus berusaha, semua dilakukan untuk menolak tumbang. Itu yang saya lacak.”
Siklus hidup

Studi tentang jender dan kemiskinan sudah berlangsung sejak tahun 1980-an. Institut Pertanian Bogor pernah melakukan studi tentang tersingkirnya perempuan dari pertanian karena modernisasi. ”Walau perempuan tersingkir karena pertanian modern, tetapi laki-laki tak bisa ditahan tidak pergi dari desa. Yang tertinggal adalah perempuan dan anak-anak. Nah, ini yang tak pernah dilihat.”

Yang paling dramatis terjadi di Bali, lanjut Lies. Sektor pertanian tersingkir oleh pariwisata, lalu siapa yang memikirkan perempuan? Dalam hukum waris secara adat, posisi mereka sangat lemah. Eksistensi di banjar tergantung pada suami dan anak laki-laki. ”Ini menunjukkan, penyelesaian kemiskinan bukan soal ekonomi saja, tetapi harus menyasar ke akar struktural, yaitu diskriminasi jender,” tegas Lies.

Apa yang jelas ditunjukkan oleh pendekatan ini?

Saya menggunakan pendekatan siklus hidup untuk menunjukkan anak laki dan perempuan menghadapi persoalan karena kemiskinan orangtuanya, tetapi masalah anak perempuan jauh lebih pelik karena harus mencari nafkah dan mengambil alih peran ibu, dengan mengurus adik-adiknya. Pendeta Lies Marantika dari NGO Humanum mengatakan, dalam situasi konflik anak perempuan bahkan harus menanggung kebutuhan biologis ayahnya.

Statistik menunjukkan seakan-akan perempuan maju dalam pendidikan. Benar, orang miskin mengirim anak perempuan sampai SMP, tetapi itu dengan dana BOS dan lapangan kerja lebih tersedia untuk perempuan lulusan SMP sebagai TKW atau buruh. Di Serang, anak perempuan dibilang anak dollar karena usia belasan tahun sudah dikirim ke Arab dan menghasilkan riyal. Kalau sedikit dewasa, ia disuruh segera kawin. Tak ada transformasi di masyarakat, berputar di situ saja. Sekali lagi, pisau analisis jender yang sangat kritis menjadi penting. Pendekatan kualitatif adalah batu uji data kuantitatif.
Tertegun

Meski puluhan tahun menjadi peneliti, ketika pertama turun ke lapangan pada bulan Maret tahun lalu ia tertegun menyaksikan kemiskinan parah. Seorang ibu muda minum pestisida karena tak bisa membayar utang ke rentenir; seorang nenek setiap hari mengangkut kayu bakar dijejer-jejer membentuk benteng, katanya takut kedinginan.

Di Aceh ia mendampingi seorang ibu lumpuh yang anaknya usia 12 tahun diperkosa si bapak angkat. Situasi di lapangan dan empati pada subyek penelitian sempat membuat Lies bertaruh nyawa, seperti ketika kapalnya dilempar amukan gelombang angin barat dari Pulau Haruku ke Ambon, pukul 17.00, 9 November 2013.

Kepekaan Lies menangkap fenomena yang subtil di masyarakat diasah sejak ia menjadi asisten peneliti dari antropolog Martin van Bruinessen. ”Martin membuka mata dan hati saya. Ketika ketemu seorang ibu eks Gerwani di Palu, saya mendengarkan dia tanpa berani bergeser karena takut merusak perasaannya saat bercerita. Saya tidak memotong. Itu saya belajar dari Martin.”

Beberapa orang juga sangat berjasa mengasah pisau analisis Lies. Almarhum Mansour Faqih, Prof Saparinah Sadli, Kamala Chandrakirana, dan Bianti Djiwandono adalah beberapa di antaranya. ”Para narasumber di lapangan adalah sekolah saya tentang bagaimana hidup diperjuangkan,” ujar Lies.

Anda juga meneliti tentang perempuan dan fundamentalisme?

Ya, bersama para peneliti dari Rumah Kita Bersama, sudah dibukukan dalam Kesaksian Para Pengabdi: Perempuan dan Jaringan Fundamentalisme di Indonesia. Banyak studi tentang fundamentalisme yang luput melihat peran perempuan. Padahal secara akal sehat saja bisa dilihat, fundamentalisme tak mungkin bertahan tanpa ada orang yang mengabdikan diri dan mereproduksi nilai-nilainya, mengimani ideologinya, dan itu dilakukan perempuan. Deradikalisasi tak kena sasaran kalau tak melihat peran perempuan.
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous