Select Language
Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
Title KLIPING BERITA: Angka Kematian Ibu Melahirkan di DIY Tinggi
Edition Rabu, 28 Mei 2014 16:38 WIB
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s) Hari Susmayanti
Subject(s) AKI
Classification
Series Title
GMD KLIPING
Language Indonesia
Publisher TRIBUNJOGJA.COM
Publishing Year 2014
Publishing Place Gunung Kidul
Collation
Abstract/Notes http://jogja.tribunnews.com/2014/05/28/angka-kematian-ibu-melahirkan-di-diy-tinggi/


TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Angka kematian ibu (AKI) usia produktif di DIY cukup tinggi. Hingga Mei 2014, jumlahnya sudah mencapai 250 orang dan sebagian besar masih berusia produktif antara 30-40 tahun.
Ketua Harian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Budi Wahyuni mengatakan, tingkat kematian ibu melahirkan termasuk kategori tinggi. Perlu ada upaya-upaya konkrit untuk menguranginya.

"Dalam dua tahun terakhir angka kematian ibu di DIY cenderung mengalami peningkatan. Tahun ini saja sudah lebih dari 250 ibu melahirkan yang meninggal dunia," katanya saat menjadi pembicara diskusi publik revolusi KB untuk pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi dan musyawarah cabang PKBI Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo Wonosari, Rabu(28/5/2014).

Tingginya kematian ibu melahirkan di DIY ini menurut Budi banyak dipicu kondisi ibu hamil yang terlalu stres sehingga berpengaruh terhadap kesehatannya. Stres ini dapat ditimbulkan oleh berbagai faktor semisal hubungan sex yang dilakukan secara terpaksa.

Sebagian besar kaum istri takut berdosa jika tidak melayani suami sesuai dengan yang ada di dalam ajaran agama. Sementara jika tidak melayani keinginan suaminya, seorang istri khawatir jika pasangannya tidak terima dan memilih untuk menceraikannya atau berselingkuh. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil terutama saat proses persalinan.

"Faktor stres menjadi pemicu ibu meninggal saat melahirkan jabang bayi. Selain itu juga faktor kesehatan lainnya semisal anemia dan kurang gisi," jelasnya.

Budi mengungkapkan, tingginya kasus kematian ibu melahirkan ini harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Harus ada revolusi kesetaraan gender, bukan hanya di bidang politik dan pendidikan saja, namun harus dimulai dari keluarga.

"Kebutuhan seks merupakan kebutuhan dasar, maka untuk memenuhi kebutuhan itu harus dilakukan secara bersama-sama dan seadil-adilnya juga,” ungkapnya.

Sementara itu, dari data Woman Research Institute(WRI), angka kematian ibu melahirkan di Gunungkidul juga mengalami kenaikan. Untuk tahun 2010, jumlahnya mencapai 8 kasus. Sementara tahun 2011 meningkat menjadi 12 kasus.

"Paling banyak di kecamatan Saptosari, ada 4 kasus, Semin, Paliyan dan Wonosari," kata aktifis WRI, Tri Asmiyanto.

Dia menambahkan, tingginya kematian ibu melahirkan di Gunungkidul ini dipengaruhi oleh terlambatnya penanganan dokter atau tenaga medis terhadap ibu hamil yang akan melahirkan. "Salah satu pemicunya, terlambatnya ibu hamil dalam mendapatkan penanganan medis," imbuhnya.(has)
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous